SIDIKJARI – Suasana di kediaman Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, mendadak berubah haru ketika seorang ibu datang dari Kabupaten Subang dengan mata sembab dan air mata yang tak berhenti mengalir.
Dengan suara bergetar, ibu tersebut mengaku sengaja datang hanya untuk bertemu Om Zein. Di hadapannya, ia mencurahkan beban hidup yang selama ini dipendam.
Terlilit utang yang tak kunjung selesai, ia mengaku sudah putus asa hingga hampir mengakhiri hidupnya dengan meminum baygon.
Mendengar pengakuan itu, Om Zein tampak terkejut sekaligus prihatin. Ia langsung berusaha menenangkan sang ibu agar tidak larut dalam keputusasaan.
Menurutnya, seberat apa pun persoalan hidup, selalu ada jalan keluar jika dihadapi dengan kesabaran dan ikhtiar.
Om Zein kemudian mengajak ibu tersebut berbincang dengan tenang, memberikan semangat agar tidak mengambil keputusan yang dapat disesali seumur hidup.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki nilai yang sangat berharga dan tidak ada persoalan yang layak dibayar dengan kehilangan nyawa.
"Ibu... jangan pernah berpikir mengakhiri hidup. Utang bisa kita ikhtiarkan, rezeki bisa dicari, tapi kalau nyawa sudah hilang, semuanya selesai. Percayalah, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Yang penting ibu jangan menyerah, jangan hadapi semuanya sendirian," ucap Om Zein.
Sebagai bentuk kepedulian, Om Zein juga memberikan bantuan uang tunai untuk meringankan beban yang sedang dihadapi sang ibu.
Bantuan itu diharapkan dapat menjadi penyemangat agar ia bisa kembali menata hidup dan mencari jalan keluar yang lebih baik.
Om Zein berpesan agar sang ibu segera pulang ke rumah sebelum hari mulai gelap. Ia juga meminta agar tetap menjaga kesehatan, mendekatkan diri kepada keluarga, dan tidak memendam persoalan seorang diri.
"Jangan menyerah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Pulanglah baik-baik, jangan sampai kemalaman. Insya Allah, semuanya bisa diselesaikan pelan-pelan," pesan Om Zein.
Momen sederhana itu menjadi gambaran bahwa terkadang seseorang hanya membutuhkan tempat untuk didengar, dipeluk dengan kepedulian, dan diyakinkan bahwa harapan masih ada.
Air mata yang semula dipenuhi keputusasaan pun perlahan berubah menjadi harapan baru saat sang ibu meninggalkan kediaman Om Zein dengan hati yang lebih tenang.
Komentar0