SIDIKJARI — Menjadi anggota dewan adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah. Sumpah jabatan yang diucapkan di hadapan Tuhan, rakyat, dan konstitusi bukanlah perkara ringan.
Di pundak mereka ada titipan suara rakyat kecil. Ada anak sekolah yang membutuhkan beasiswa, petani yang membutuhkan pupuk, hingga warga yang bertahun-tahun menunggu jalan rusak diperbaiki.
Namun, kehormatan itu bisa luntur. Bukan selalu karena serangan dari luar, tetapi justru karena musuh yang datang dari dalam diri sendiri: nafsu.
Ada dua nafsu yang paling berbahaya ketika tidak mampu dikendalikan: nafsu harta dan nafsu birahi.
Nafsu harta bisa membuat mata gelap. Anggaran yang seharusnya kembali untuk kepentingan rakyat berpotensi disalahgunakan demi kepentingan pribadi dan kelompok.
Begitu pula nafsu birahi. Ketika akal sehat kalah, tempat dan jabatan yang seharusnya dijaga kehormatannya bisa tercoreng oleh perilaku yang tidak semestinya.
Godaan bisa datang dari berbagai arah. Jamuan, pesta, tempat hiburan, hingga bisikan, “Hidup cuma sekali.”
Di titik itulah pertarungan sesungguhnya terjadi: antara kehormatan sumpah jabatan dan nafsu pribadi.
Rakyat tidak membutuhkan wakil yang sempurna. Rakyat hanya membutuhkan wakil yang tahu malu, tahu batas, dan tahu tanggung jawab.
Malu ketika tidak hadir menjalankan tugas. Malu ketika aspirasi rakyat tidak diperjuangkan.
Malu ketika hidup bermewah-mewahan sementara konstituen masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kehormatan dewan bukan terletak pada jas dan dasi mahal. Bukan pula pada mobil dinas, fasilitas, atau besarnya tunjangan.
Kehormatan itu terlihat ketika seorang wakil rakyat berani menolak ajakan yang salah, menjaga perilaku, dan memilih kembali ke daerah pemilihan untuk mendengar keluhan masyarakat daripada mengejar kesenangan pribadi.
Sebab jabatan hanya sementara, tetapi rekam jejak akan dikenang.
Ketika muncul dugaan perilaku yang mencoreng marwah lembaga, jangan pula langsung menghakimi. Periksa faktanya, buka kebenarannya, dan tegakkan mekanisme etik secara objektif.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana:
Mau menjaga kehormatan yang akan dikenang anak cucu, atau menuruti nafsu sesaat yang hanya menyisakan aib dan penyesalan?
Rakyat memberikan suara bukan untuk membeli kemewahan.
Rakyat memberikan suara untuk memilih wakil yang mampu menjaga amanah dan kehormatan.
Jangan sampai kursi terhormat justru menjadi tempat seseorang kalah melawan dirinya sendiri.
Jabatan boleh berakhir. Tunjangan boleh sebesar gunung. Tetapi kehormatan dan aib akan meninggalkan jejak.
Penulis: Panuntun Catur Supangkat Sekretaris Pospera Purwakarta
Komentar0