GUYoGpApTSrlBSY5TpC8BSd8Ti==

Tiga Besar Calon Kadis Perkim Purwakarta: Nilai Tinggi, Tapi Siapa Bisa Bikin Kantor Kondusif?

SIDIKJARI —Tiga nama sudah masuk tiga besar calon Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Purwakarta.

Tapi ketika kabar tiga besar ini sampai ke meja Warung Kopi , pertanyaan pelanggan ternyata bukan soal siapa paling tinggi nilainya.

Justru pertanyaannya lebih sederhana, sekaligus lebih pedas:

“Kalau sudah duduk di kursi Kadis, bisa memimpin tidak?”

Nah, kopi mulai diseruput pelan-pelan.

Pelanggan Pertama: “Nilai Tinggi Itu Bagus, Tapi Kursi Kadis Bukan Kursi Ujian”

“Kalau nilai tinggi, ya bagus,” kata pelanggan pertama sambil mengaduk kopi.

“Tapi jangan lupa, kursi Kadis itu bukan kursi ujian. Tidak ada pengawas yang setiap lima menit bilang, ‘Waktu Anda tinggal sebentar’.”

Pelanggan kedua tertawa.

“Betul. Kalau ujian selesai, lembar jawaban dikumpulkan. Kalau jadi Kadis, yang dikumpulkan bukan kertas jawaban, tapi **hasil kerja satu organisasi**.”

Meja sebelah mulai ikut mendengarkan.

Pelanggan Kedua: “Jangan Sampai Pintar Menjawab, Tapi Bingung Mengarahkan”

“Pemimpin itu bukan cuma pintar menjawab pertanyaan,” celetuk pelanggan kedua.

“Yang lebih penting, ketika bawahannya bertanya, dia tahu harus membawa organisasi ke mana.”

Lalu ia menyeruput kopi.

“Karena kalau semua keputusan dilempar ke bawah, namanya bukan memimpin. Itu namanya kursinya di atas, bebannya di bawah.”

Meja Warung Kopi langsung riuh.

Pelanggan Ketiga: “Kantor Itu Butuh Komando, Bukan Cuma Tanda Tangan”

“Kalau sudah jadi kepala dinas, jangan cuma kelihatan ketika ada acara dan tanda tangan dokumen.”

“Yang ditunggu itu kemampuan menggerakkan jajaran.”

“Bisa komunikasi?”

“Bisa membangun kerja sama?”

“Bisa menyelesaikan persoalan?”

“Bisa membuat bawahan bekerja dalam suasana yang kondusif?”

Ia berhenti sejenak.

“Kalau itu semua bisa, baru terasa bedanya antara pejabat yang duduk di kursidengan pemimpin yang menggerakkan organisasi.”

Pelanggan Keempat: “Jangan Sampai Kursinya Empuk, Suasana Kantornya Malah Tegang”

“Yang paling bahaya itu bukan kursinya keras. Yang bahaya kalau kursinya empuk, tapi setelah pimpinan duduk, suasana bawah malah ikut panas.”sambil tertawa kecil.

“Lho, memangnya sudah begitu?”

“Bukan ngomong siapa-siapa,” jawabnya cepat.

“Ini cuma pengingat. Siapa pun yang terpilih nanti harus mampu menjaga kondusivitas internal.”

Katanya lagi:

“Karena satu pimpinan tidak bekerja sendirian. Ada sekretaris, kepala bidang, pejabat struktural, staf. Kalau komunikasi buruk, koordinasi tersendat, yang kena dampaknya bukan cuma pegawai. Yaasyarakat”

“Kalau saya jadi Bupati, saya tidak akan berhenti melihat angka.”tambahnya.

“Lihat juga rekam jejak. Lihat pengalaman. Lihat integritas. Lihat kemampuan manajerial. Lihat cara berkomunikasi. Lihat kemampuan membangun tim.”

Berdasarkan data yang beredar, tiga besar calon Kadis Perkim Purwakarta adalah:

Peringkat 1 — Entin Suryatin: 82,24
Peringkat 2 — Yadi Heryadi: 79,89
Peringkat 3 — Pramuji Nugroho: 77,98

Siapa pun yang akhirnya dipercaya menduduki kursi tersebut, publik tentu berharap keputusan tidak hanya berorientasi pada angka hasil seleksi.

Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu bekerja, mendengar, berkoordinasi, mengambil keputusan, dan menjaga agar roda organisasi tetap berjalan kondusif.

"Jangan sampai yang dicari cuma siapa yang layak duduk di kursi Kadis. Yang lebih penting, siapa yang setelah duduk mampu membuat bawahannya bekerja dengan tenang, kompak, dan masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik."celetuk yang lain

Karena kalau kursinya sudah didapat tetapi kantor malah tidak kondusif, jangan salahkan kopinya kalau kemudian terasa makin pahit.

Komentar0

Type above and press Enter to search.