SIDIKJARI- Waktu kecil, kita sering mendengar kalimat sederhana dari ibu: “Makan kalau tidak dihabiskan, nanti nasinya nangis.”
Kalimat itu terdengar seperti dongeng kecil agar anak patuh. Kita pun menuruti, menghabiskan nasi tanpa banyak bertanya.
Saat itu, nasi hanyalah nasi putih, hangat, dan sering dianggap remeh.
Namun waktu berjalan. Usia bertambah. Hidup mulai memperlihatkan wajah aslinya.
Barulah kita sadar, yang dulu ibu maksud bukan benar-benar nasi yang menangis.
Yang “menangis” adalah proses panjang di balik sebutir nasi.
Ada keringat petani yang terbakar matahari. Ada lumpur sawah yang diinjak tanpa alas. Ada musim yang tak selalu ramah. Ada harapan yang digantungkan pada panen.
Dan di banyak meja makan, ada doa agar besok masih bisa makan.
Ketika dewasa, kita mulai mengerti:
Menghabiskan nasi bukan soal takut nasi menangis, melainkan belajar menghargai hidup.
Menghargai jerih payah orang lain.
Menghargai rezeki yang tak semua orang punya.
Menghargai kenyataan bahwa di luar sana, ada yang menangis bukan karena nasi tersisa, tetapi karena tak punya nasi sama sekali.
Nasihat ibu dulu sederhana, tapi maknanya panjang.Ia tidak mengajarkan takut, ia mengajarkan empati.
Dan mungkin, saat ini, yang benar-benar perlu kita jaga agar tidak “menangis”
bukan lagi nasi di piring,melainkan hati kita sendiri agar tetap peka, rendah hati, dan tahu bersyukur.
Komentar0