SIDIKJARI- Kesabaran ada batasnya. Itulah yang tergambar dari reaksi Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein saat melintas di jalan Purwakarta–Bandung, tepatnya di Jalan Raya Cilalawi, Kecamatan Sukatani, Senin pagi, 9 Februari 2026.
Alih-alih menikmati perjalanan, Om Zein justru disambut pemandangan yang bikin geleng kepala: jalan umum dipenuhi tanah merah, licin, berbahaya, dan sama sekali tak mencerminkan tanggung jawab siapa pun yang menggunakannya.
“Allah Ya Robbi. Ini jalan penuh tanah. Ini siapa pelakunya, nggak mikir. Coba pikir keselamatan orang,” ujar Om Zein dengan nada geram, dalam unggahan video di akun TikTok @omzein_bupatiaing.
Nada itu bukan tanpa alasan. Tanah yang berserakan di badan jalan berpotensi membuat kendaraan baik roda dua maupun roda empatterpeleset dan celaka.
Dan ironisnya, semua itu terjadi di jalan arteri, jalur vital yang dilalui ribuan pengendara setiap hari.
“Ini gimana kalau ada kendaraan kepeleset? Jangan pikir kepentingan sendiri,” tegasnya lagi.
Kemarahan Om Zein bukan sekadar konten media sosial. Di lokasi, ia langsung menghubungi Satpol PP Purwakarta untuk menelusuri siapa pihak yang bertanggung jawab atas kondisi jalan tersebut.
Tak berhenti di situ, petugas Damkar juga diminta segera turun tangan membersihkan tanah dari badan jalan demi mencegah kecelakaan.
“Teguh, itu tolong Jalan Cilalawi penuh tanah. Cari tahu siapa pelakunya. Bawa petugas damkar untuk bersihkan jalan. Takutnya ada yang celaka,” perintah Om Zein dengan nada tak bisa ditawar.
Pesannya jelas dan menusuk: jalan umum bukan milik pribadi, dan keselamatan pengguna jalan bukan sesuatu yang bisa dikorbankan demi kepentingan sepihak.
“Kasih tahu sama pelakunya jangan mementingkan kepentingan sendiri. Itu kan jalan umum. Kalau ada yang celaka gimana?” tutup Om Zein dengan nada keras.
Peristiwa ini kembali membuka mata publik: masalah kecil yang disepelekan bisa berubah jadi ancaman nyawa.
Dan ketika pemimpin daerah harus turun tangan langsung karena kelalaian segelintir pihak, pertanyaannya sederhana tapi pedih—sebenarnya siapa yang tak punya rasa tanggung jawab?
Komentar0