SIDIKJARI – Program yang digadang-gadang untuk mendukung ketahanan pangan dan menyukseskan agenda Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Purwakarta kini justru memunculkan tanda tanya besar.
Bagaimana tidak, anggaran Dana Desa tahun 2025 sebesar Rp 2,7 miliar dikucurkan untuk pengadaan bibit ikan gurame. Ironisnya, program yang seharusnya menjadi harapan masyarakat ini justru menimbulkan kecurigaan publik sejak awal.
Dengan harga bibit mencapai Rp 7.500 per ekor, nilai pengadaan ini dinilai tidak sederhana.
Setelah sebelumnya dipertanyakan dari sisi anggaran dan mekanisme pengadaan, fakta di lapangan justru memperparah keadaan: sebagian ikan dilaporkan mati dalam proses pembesaran di kolam terpal bulat.
Lebih menarik lagi, pengadaan ini dilakukan melalui kerja sama dengan PT Wangsa Syahitu Dewantara dengan pihak desa.
Nama perusahaan mungkin terdengar meyakinkan, namun publik berhak tahu—bagaimana proses penunjukan dilakukan? Apakah melalui mekanisme transparan, atau sekadar formalitas untuk menghabiskan anggaran?
Namun, ketika pelaksanaannya dibalut dengan angka-angka fantastis tanpa kejelasan yang gamblang, maka wajar jika publik mulai bertanya: apakah ini benar-benar untuk rakyat, atau sekadar proyek yang “kebetulan” menguntungkan pihak tertentu?
Dana Desa bukan uang pribadi. Itu adalah uang rakyat yang seharusnya dikelola dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar dihabiskan atas nama program.
Jika pada akhirnya bibit ikan tersebut gagal produksi, mati, atau tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat, siapa yang akan bertanggung jawab?
Apakah penyedia siap mengganti kerugian? Ataukah ini akan menjadi cerita lama—anggaran habis, hasil tak jelas, dan publik diminta untuk kembali “memaklumi”?
Aparat penegak hukum tidak bisa tinggal diam. Audit menyeluruh harus dilakukan, mulai dari perencanaan, penunjukan penyedia, hingga distribusi dan realisasi di lapangan.
Karena jika tidak, program sebaik apapun akan selalu berakhir sama: bagus di atas kertas, namun pahit di kenyataan.
Dan masyarakat? Lagi-lagi hanya bisa menonton sambil bertanya, uang Rp 2,7 miliar itu sebenarnya pergi ke mana.
Komentar0