GUYoGpApTSrlBSY5TpC8BSd8Ti==

Obrolan Warung Kopi: Saatnya Pejabat Diskominfo Purwakarta Turun dari Singgasana AC

SIDIKJARI — Warung kopi memang tempat paling jujur di negeri ini. Tidak ada notulen rapat, tidak ada sambutan berbunga-bunga, apalagi kalimat sakti “akan segera kami tindak lanjuti.” Yang ada hanya kopi pahit, asap rokok, dan rakyat yang mulai lelah melihat tingkah pejabat.

“Sekarang mah pejabat lebih rajin update status daripada update pelayanan,” celetuk seorang bapak sambil mengaduk kopi.

Yang lain langsung menyahut, “Apalagi pejabat Diskominfo. Ironi paling lucu ya di situ. Dinas komunikasi, tapi komunikasi ke masyarakat malah sering putus.”

Memang aneh bin ajaib. Di era semua orang pegang handphone, sebagian pejabat justru seperti hidup di zaman kentongan. Sulit dihubungi, susah ditemui, tapi foto kegiatan selalu paling depan. 

Ketika masyarakat butuh klarifikasi, yang muncul malah admin. Ketika warga ingin jawaban, yang keluar justru template.

“Diskominfo itu harusnya jadi jembatan informasi, bukan tembok birokrasi,” ujar seorang pemuda.

Tapi realitanya, banyak pejabat terlalu nyaman duduk di singgasana AC. Terlalu lama berada di ruangan dingin sampai lupa panasnya keluhan warga. Pendingin ruangan rupanya sukses membekukan kepekaan.

Turun ke lapangan pun kadang cuma formalitas. Datang pakai rombongan, senyum ke kamera, unggah dokumentasi, selesai. Seolah kerja pemerintah hari ini cukup dibuktikan lewat postingan media sosial.

Padahal rakyat tidak butuh feed Instagram yang rapi. Rakyat butuh pelayanan yang nyata.

Yang lebih lucu lagi, kritik dari masyarakat sering dianggap gangguan. Baru disentil sedikit langsung bicara soal etika. Padahal rakyat cuma bertanya sederhana: kerja atau sekadar tampil?

“Kalau komunikasi publik bagus, rakyat nggak bakal ngeluh terus,” kata pengunjung warung lainnya. 

“Masalahnya kadang pejabat lebih cepat balas wartawan saat mau publikasi, dibanding balas warga yang lagi butuh solusi.”

Pejabat, terutama yang duduk di kantor komunikasi, seharusnya paling peka terhadap suara masyarakat. Bukan malah sibuk membangun citra seolah semua baik-baik saja. 

Karena rakyat hari ini sudah cerdas. Mereka bisa membedakan mana kerja nyata, mana konten pencitraan.

Sudah saatnya pejabat turun dari singgasana AC. Keluar dari ruang dingin, dengar langsung suara warga tanpa filter staf dan tanpa setting kamera.

Sebab di warung kopi, rakyat mungkin memang cuma ngobrol. Tapi sering kali, obrolan itulah yang lebih jujur daripada laporan resmi setebal ratusan halaman.

Komentar0

Type above and press Enter to search.