GUYoGpApTSrlBSY5TpC8BSd8Ti==

Di Bawah Langit Pondoksalam, Safari Cinta Menyatukan Hati Warga Purwakarta

SIDIKJARI – Di bawah langit malam Pondoksalam yang dipenuhi antusiasme masyarakat, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menghadiri kegiatan “Safari Cinta” Pamuka Lawang Runtuyan Hari Jadi Purwakarta Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Kantor Kecamatan Pondoksalam, Sabtu,(13/6/2026) malam.

Kegiatan yang dimeriahkan oleh Kang Ohang, Ceu Popon, Emka 9 PW, serta Sanggar Seni Putra Purna Yudha itu bukan sekadar hiburan rakyat. 

Di balik kemeriahan panggung dan tawa masyarakat, Safari Cinta mengandung filosofi mendalam tentang bagaimana sebuah daerah membangun peradaban melalui cinta, budaya, dan kebersamaan.

Bupati Purwakarta, Om Zein menyampaikan, Dalam khazanah budaya Sunda, cinta tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antarindividu, melainkan juga rasa memiliki terhadap tanah kelahiran, kepedulian terhadap sesama, penghormatan kepada leluhur, dan tanggung jawab menjaga warisan budaya. 

“Hari Jadi Purwakarta bukan hanya perayaan usia, tetapi momentum memperkuat kebersamaan, menjaga budaya, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah,"ungkap OmZein

Karena itu, Safari Cinta menjadi simbol perjalanan batin masyarakat Purwakarta untuk kembali mengingat akar budaya yang selama ini menjadi identitas daerah.

"Safari Cinta kami maknai sebagai ruang silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat agar pembangunan berjalan dengan hati, budaya, dan kebersamaan.” ucap Om Zein

Sebagai Pamuka Lawang atau pembuka seluruh rangkaian Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58 Tahun 2026, Safari Cinta ibarat gerbang yang mengantarkan masyarakat memasuki ruang perenungan bersama. 

Bahwa usia yang semakin matang bukan hanya tentang perjalanan waktu, tetapi juga tentang kemampuan sebuah daerah menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Pada pagi harinya, masyarakat terlebih dahulu mengikuti tradisi Gubyag Balong di Balong Lembur Harepan, Desa Salem. 

Jika Gubyag Balong mengajarkan filosofi gotong royong dan kebersamaan dalam mencari rezeki, maka Safari Cinta menjadi pelengkap yang menegaskan pentingnya merawat hubungan antarmanusia melalui seni, budaya, dan silaturahmi.

Kehadiran berbagai pertunjukan seni dalam kegiatan tersebut juga mengandung pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. 

Seni menjadi bahasa yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang usia, profesi, maupun latar belakang sosial. Melalui seni, masyarakat belajar menghargai perbedaan dan menemukan persamaan sebagai warga Purwakarta.

Tema Hari Jadi tahun ini, “Ajeg Budaya Purwakarta Istimewa”, terasa hidup dalam kegiatan Safari Cinta. Kata *ajeg* bukan hanya berarti tetap atau kokoh, tetapi juga mencerminkan komitmen untuk menjaga nilai-nilai luhur agar tidak tergerus oleh perubahan zaman. 

Sebab kemajuan daerah akan memiliki makna ketika tetap berpijak pada budaya dan karakter masyarakatnya.

Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, Safari Cinta menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang membangun jiwa masyarakat yang saling menghargai, saling peduli, dan saling mencintai. 

Dari cinta itulah lahir persatuan, dan dari persatuan tumbuh kekuatan untuk membangun daerah.

Dengan hadirnya jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, para kepala perangkat daerah, camat, kepala desa, serta ribuan warga masyarakat, Safari Cinta menjadi cermin harmonisasi antara pemerintah dan rakyat. 

Sebuah ruang bersama yang menunjukkan bahwa Purwakarta tidak hanya dibangun oleh kebijakan, tetapi juga oleh ikatan emosional yang terjalin erat di antara seluruh warganya.

Maka, Safari Cinta bukan sekadar agenda seremonial pembuka Hari Jadi Purwakarta. Ia adalah simbol perjalanan cinta terhadap daerah, penghormatan terhadap budaya, dan harapan agar semangat kebersamaan terus tumbuh dalam setiap langkah pembangunan Purwakarta di masa depan.

Komentar0

Type above and press Enter to search.