SIDIKJARI —Luar biasa. Salut. Tepuk tangan yang paling meriah untuk Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Jawa Barat.
Angka puluhan miliar rupiah kembali mengundang perhatian. Kali ini, sorotan mengarah pada anggaran penyediaan jasa pelayanan umum Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Jawa Barat yang disebut mencapai sekitar Rp31,6 miliar.
Nominal tersebut bukan angka kecil. Jika hanya dibaca sekilas dalam dokumen anggaran, mungkin terlihat sebagai angka biasa.
Namun ketika nilainya menembus puluhan miliar, publik tentu berhak bertanya: sebenarnya pelayanan umum seperti apa yang membutuhkan anggaran sebesar itu?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menuduh adanya penyimpangan. Justru sebaliknya, semakin besar uang publik yang dialokasikan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan penggunaannya dapat dijelaskan secara terbuka.
Rp31,6 miliar tentu memiliki peruntukan. Ada pekerjaan, kebutuhan operasional, jasa, maupun komponen lain yang menjadi dasar munculnya angka tersebut.
Tetapi publik tidak cukup hanya disuguhi angka. Yang dibutuhkan adalah penjelasan.
Apa saja jenis jasa yang masuk dalam paket anggaran tersebut? Berapa nilai masing-masing pekerjaan? Siapa penyedianya?
Bagaimana mekanisme pengadaannya? Apakah melalui tender, pengadaan langsung, atau mekanisme lainnya?
Dan yang paling penting, apa ukuran keberhasilan dari pelayanan yang dibayar menggunakan uang sebesar itu?
Sebab, jangan sampai istilah “pelayanan umum” menjadi payung besar yang membuat angka puluhan miliar terlihat biasa saja.
Anggaran pemerintah pada hakikatnya adalah uang publik. Karena itu, masyarakat memiliki kepentingan untuk mengetahui bagaimana setiap rupiah dibelanjakan, terlebih ketika nilainya mencapai Rp31,6 miliar.
Publik tentu tidak sedang menghitung berapa banyak angka nol di belakang nominal tersebut.
Publik ingin memastikan bahwa uang sebesar itu benar-benar kembali menjadi pelayanan yang dirasakan manfaatnya.
Kalau memang seluruh anggaran tersebut memiliki dasar perencanaan yang kuat, spesifikasi pekerjaan jelas, harga wajar, proses pengadaan sesuai aturan, serta output yang terukur, maka penjelasan terbuka seharusnya tidak menjadi persoalan.
Sebaliknya, jika ada bagian anggaran yang sulit dijelaskan, justru di situlah pertanyaan publik semakin layak diajukan.
Jangan sampai pelayanan umum terdengar sederhana, tetapi anggarannya luar biasa.
Rp31,6 miliar bukan sekadar angka dalam dokumen. Di dalamnya ada uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, KCD Pendidikan Wilayah IV patut membuka informasi secara terang benderang mengenai rincian anggaran, volume pekerjaan, spesifikasi jasa, mekanisme pengadaan, hingga hasil yang diterima masyarakat.
Sebab dalam urusan uang publik, prinsipnya sederhana: Semakin besar anggarannya, semakin terang pula pertanggungjawabannya.
Dan untuk angka Rp31,6 miliar, publik rasanya pantas mendapatkan jawaban yang juga tidak setengah-setengah.
Selamat untuk Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV. Kalian berhasil mendefinisikan ulang arti "pendidikan".
Ternyata pendidikan itu bukan tentang murid dan guru, tapi tentang bagaimana menghabiskan Rp 31,6 miliar agar kantor tetap kinclong
Komentar0