GUYoGpApTSrlBSY5TpC8BSd8Ti==

Secangkir Kopi dan Segelas Janji Kosong

Ilustrasi (AI)

Kopi adalah makhluk paling jujur di negeri ini. Ia tidak pernah menjanjikan manis, tidak membuat slogan di spanduk, tidak berkoar di depan kamera. 

Sejak awal, kopi sudah berkata apa adanya: pahit. 

Namun anehnya, justru kopi yang selalu setia menemani di pagi buta, di malam panjang, saat pikiran kusut dan harapan menipis.

Berbeda dengan sebagian pejabat. Mereka gemar menjanjikan manis. Manis di awal, legit di pidato, harum di baliho. 

Sayangnya, rasa itu sering hilang begitu saja benar-benar diminum. Yang tersisa justru pahitnya kebijakan, hambarnya realisasi, dan ampas janji yang mengendap di dasar gelas rakyat.

Kopi tidak pernah berubah demi disukai. Pejabat justru sering berubah demi dipilih. Kopi tidak butuh tepuk tangan, pejabat sering alergi kritik. 

Kopi menemani dalam diam, pejabat sering hadir hanya saat kamera menyala. Ironisnya, yang pahit justru lebih jujur.

Kopi tidak pernah marah ketika ditinggal. Pejabat sering tersinggung saat diingatkan. Kopi tidak menuntut pujian, pejabat kadang menuntut pengakuan. Padahal tugasnya sama sederhana: hadir dan berguna.

Kopi juga tahu diri. Ia tidak mengklaim bisa menyelesaikan semua masalah, tapi setidaknya ia menemani saat masalah itu ada. Pejabat, sebaliknya, kadang terlalu percaya diri menjanjikan segalanya—namun menghilang ketika rakyat benar-benar membutuhkan.

Jika kopi saja bisa setia tanpa janji manis, mengapa pejabat harus pandai merayu tapi miskin bukti? Mungkin karena kopi bekerja, sementara pejabat terlalu sibuk bicara.

Pada akhirnya, kopi tetap diminum meski pahit. Pejabat tetap dikritik meski berjanji manis. Sebab rakyat sudah belajar: lebih baik pahit tapi jujur, daripada manis tapi palsu.

Komentar0

Type above and press Enter to search.