SIDIKJARI- Di era digital saat ini, media sosial dengan segala kekuatan teknologinya kerap dianggap sebagai “teman hidup” masyarakat.
Aktivitas sehari-hari seolah tak lengkap tanpa membuka lini masa, mengunggah cerita, atau sekadar membaca komentar.
Keduanya ibarat simbiosis mutualisme,sama-sama menguntungkan diantara kedua belah pihak.
Media sosial telah menjadi bagian dari suatu kehidupan masyarakat yang berfungsi selain sebagai penyebar informasi dan hiburan,juga sebagai suatu alat propaganda yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang untuk percaya dan yakin terhadap pesan yang ada dibalik unggahannya itu.
Kekuatan utama media sosial adalah jangkauannya yang luas dan mendunia,sehingga apapun unggahan yang di upload akan berdampak pada perilaku yang melihatnya.
Dari kekuatan inilah para penguasa negeri ini memanfaatkan media ini sebagai sarana propaganda untuk kepentingan politiknya.
Media sosial sering di gunakan untuk membingkai sebuah isu dari sudut pandang tertentu agar persepsi publik sesuai dengan agenda politik yang diinginkan.
Tak jarang media sosial juga di pakai untuk mengubah situasi yang kompleks menjadi topik pembicaraan publik untuk menaikkan popularitas atau menyudutkan lawan politik.
Seperti kejadian di antah berantah,seorang kepala daerah yang menang lewat jalur pemilihan langsung tiba-tiba bikin geger di media sosial,unggahan yang mungkin kurang elok untuk di upload oleh seorang kepala daerah.
Bertema seolah-olah dirinya kurang di perankan maksimal oleh rekannya,untuk menciptakan rasa simpati di kalangan masyarakat sehingga mengangkat elektabilitas.
Pesan yang di terima dari kejadian itu bisa terbagi beberapa hal,di antaranya mungkin itu salah satu gerakan politik untuk persiapan pada pemilihan berikutnya.
Trik cerdas dari kepala daerah untuk menjaga namanya agar tetap exist,walaupun waktu pilkada masih jauh,apa mungkin sudah kebelet.
Komentar0