GUYoGpApTSrlBSY5TpC8BSd8Ti==

Kopi Belum Habis, Disdik Sudah Diamuk Bupati Purwakarta

Bupati Purwakarta Om Zein (kiri) menegur sekretaris Dinas Pendidikan Purwakarta (kanan) (Foto: Tangkapan layar TikTok @omzein_bupatiaing

SIDIKJARI- Pagi itu, di Purwakarta, aroma kopi di ruang rapat masih hangat, mungkin bahkan lebih hangat dari nurani sebagian pejabatnya. 

Tapi di halaman SDN 1 Cisalada, suasananya lain cerita: murid-murid sudah berbaris rapi, tas menggantung di pundak, masa depan menunggu sayangnya tanpa guru.

Ya, sekolah itu buka. Murid datang tepat waktu. Yang tidak datang justru mereka yang digaji untuk datang tepat waktu.

Bupati Purwakarta, Om Zein, yang pagi itu turun langsung ke lapangan untuk membagikan sepatu ke siswa, menemukan pemandangan langka sekaligus memalukan: sekolah berjalan tanpa guru dan tanpa kepala sekolah. 

Lengkap sudah. Seperti warung buka tapi penjualnya masih tidur, atau lebih tepatnya masih nyaman di tempat entah di mana.

Jam pelajaran sudah dimulai. Anak-anak sudah siap belajar. Tapi yang menyambut mereka bukan guru, melainkan penjaga sekolah. 

Naik pangkat dadakan. Dari penjaga jadi “pendidik darurat”. Bukan karena kompeten, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Di titik inilah Om Zein naik pitam. Dan jujur saja, siapa pun yang masih punya akal sehat, pasti ikut panas.

Amarah itu bukan tanpa sebab. Ini bukan soal satu-dua guru telat. Ini soal budaya abai yang terlalu lama dibiarkan. 

Soal Dinas Pendidikan yang dinilai terlalu betah duduk di balik meja, terlalu akrab dengan pendingin ruangan, dan terlalu jarang menyentuh realitas sekolah di pagi hari.

Pesannya sederhana, tapi menohok:
“Jangan cuma diam di kantor. Keliling ke sekolah-sekolah!”

Sebuah kalimat yang terdengar sepele, tapi rupanya sulit dijalankan oleh pejabat yang lebih rajin keliling rapat daripada keliling lapangan.

Netizen pun tak mau kalah. Kolom komentar mendadak jadi wajan panas penuh kritik pedas.

@idinsupriyadi:“Kepala dinasnya jangan duduk saja di kursi empuk. Sidak seminggu sekali ke setiap sekolah. Itu baru pejabat kerja.”

@muis:“Mantaaf pak bupati. Lanjut infeksi ke sekolah pelosok desa, pasti banyak temuan.”

@Dwi.S:“Mungkin lagi kebanjiran.”

Sarkasme publik ini bukan tanpa alasan. Banyak yang sudah lelah melihat pejabat rajin absen ke lapangan, tapi selalu hadir saat tanda tangan laporan.

Komentar lain pun ikut menampar keras:

@ki_kurus:“Sekolah jam 7 belum ada guru, sungguh terlalu. Bagaimana kalau ada musibah menimpa siswa? Guru dan kepseknya ke mana?”

Pertanyaan sederhana. Tapi jawabannya sering kali berputar-putar, menghindar, atau hilang bersama jam kerja.

Kasus SDN 1 Cisalada ini akhirnya bukan cuma soal guru terlambat. Ini potret buram dunia pendidikan kita: murid dipaksa disiplin, sementara orang dewasa di atasnya lupa memberi contoh.

Om Zein sudah turun. Sudah marah. Sudah bicara keras.
Sekarang tinggal satu pertanyaan paling pedas:

Apakah Dinas Pendidikan akan ikut turun ke sekolahatau tetap setia turun ke kursi empuknya?

Karena pendidikan bukan tentang laporan rapi di meja kantor. Pendidikan adalah soal kehadiran nyata di pagi hari, sebelum anak-anak belajar arti tanggung jawab dari ketidakhadiran orang dewasa.

Dan kalau sekolah saja bisa buka tanpa guru, jangan heran kalau suatu hari nanti, rasa malu juga resmi dinyatakan libur.

Komentar0

Type above and press Enter to search.