SIDIKJARI — Di bawah langit sore dan tiupan angin yang tak pernah pasti, permainan layangan menghadirkan pelajaran hidup yang sering luput disadari.
Sebuah benang tipis yang menghubungkan tangan manusia dengan langit menjadi pengingat sederhana: yang tinggi belum tentu aman, yang putus pasti disesalkan.
Layangan hanya bisa terbang karena keseimbangan. Terlalu ditarik, ia menjerit lewat benang yang menegang, lalu putus.
Terlalu dilepas, ia kehilangan arah dan jatuh. Di situlah hidup sering berada di antara keinginan untuk naik setinggi mungkin dan kebutuhan untuk tetap terkendali.
Banyak orang mengejar ketinggian: jabatan, pencapaian, pengakuan. Seperti layangan yang melayang paling tinggi, semua tampak indah dari kejauhan.
Namun, semakin tinggi, semakin rapuh hubungan yang menjaganya. Benang kesabaran menipis, perhatian berkurang, dan satu tarikan berlebih bisa mengakhiri segalanya.
Saat benang itu putus, penyesalan datang terlambat. Layangan masih terlihat, namun tak lagi bisa digenggam.
Sama seperti kesempatan yang terlewat, hubungan yang renggang, atau keputusan yang diambil tanpa kesadaran penuh.
Permainan layangan mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan soal setinggi apa kita terbang, melainkan seberapa baik kita menjaga keseimbangan.
Mengetahui kapan harus menarik, kapan harus melepas, dan kapan harus menerima bahwa tidak semua hal bisa dimiliki selamanya.
Di akhir sore, ketika angin melemah dan langit mulai redup, layangan-layangan diturunkan satu per satu.
Sebuah penutup yang tenang, seolah mengingatkan bahwa hidup pun seharusnya dijalani dengan kesadaran: tidak tergesa mengejar tinggi, tidak lalai menjaga ikatan.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah layangan yang paling tinggi, melainkan benang yang tak pernah putus.
Penulis : Aris Suandi
Pimred SIDIKJARI.co.id
Komentar0