SIDIKJARI- Tidak semua ujian hidup datang dalam bentuk badai besar yang mengguncang. Sebagian justru hadir diam-diam, lewat hal-hal sederhana, bahkan melalui permintaan yang tampak sepele. Namun justru di sanalah, sering kali, nilai terdalam manusia diuji.
Ketika Bupati Purwakarta, Om Zein, dan para pekerja bangunan asal Cirebon menjadi cermin yang jujur tentang hal itu.
Saat Om Zein meminta uang makan mereka, yang diuji sebenarnya bukanlah nominal uang, melainkan sikap batin: seberapa ikhlas seseorang melepaskan apa yang ia anggap miliknya.
Di antara para pekerja tersebut, Mansur menunjukkan sikap yang berbeda. Dengan penuh keikhlasan, ia memberikan sebagian uang makannya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya, namun ia percaya bahwa berbagi tidak akan membuatnya kekurangan.
Keikhlasan, kebaikan, dan kemurahan hatinya justru membawanya pada keberuntungan berlipat ganda yang tak disangka-sangka melebihi apa yang diberikan.
Sebaliknya, Murad memilih untuk tidak berbagi. Ia merasa sayang, takut kekurangan, dan lebih memilih menyimpan apa yang ia miliki.
Pada saat itu, sikap pelitnya membuat ia tidak seberuntung Mansur. Bukan karena hidup tidak adil, melainkan karena kesempatan baik sering datang kepada mereka yang mau membuka hati.
Dari peristiwa ini, Om Zein mengingatkan kita bahwa rezeki bukan semata hasil kerja keras. Ia juga merupakan buah dari sikap batin.
Keikhlasan, kepedulian, dan keberanian untuk berbagi sering kali menjadi jalan datangnya kebaikan lain yang lebih besar.
Hidup akan terus menguji kita, bukan hanya lewat kesulitan besar, tetapi melalui pilihan-pilihan kecil: memberi atau menahan, berbagi atau menyimpan, percaya atau takut. Dari pilihan-pilihan sederhana itulah, arah hidup perlahan dibentuk.
Karena pada akhirnya, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan kembali, mungkin dengan cara yang tak pernah kita duga.
Komentar0