SIDIKJARI- Satu sekolah dasar di Purwakarta kedapatan tanpa guru di pagi hari. Bukan hasil pengawasan rutin tapi lewat sidak langsung Bupati Om Zein.
Dinas Pendidikan Purwakarta langsung bergerak cepat Pembinaan dilakukan, Pengawasan diperketat, dan Pernyataan resmi dirilis langsung keluar.
Cepat sekali. Terlalu cepat, sampai publik wajar bertanya dengan nada nyinyir: kalau bisa secepat ini, selama ini Dinas Pendidikan ngapain?
Karena mari kita jujur: sekolah tanpa guru itu bukan kejadian dadakan. Itu masalah yang seharusnya bisa terdeteksi sejak awal, lewat pengawasan rutin dan pembinaan yang berjalan konsisten.
Tapi kenyataannya, sistem pengawasan hidup hanya saat ada sidak seolah disiplin guru baru penting kalau ada kamera.
Guru selama ini dikejar soal kedisiplinan dan tanggung jawab. Tapi ketika satu sekolah bisa kosong begitu saja, jawabannya bukan evaluasi menyeluruh, tapi pembinaan kilat pasca-dipergoki. Ironis, kan?
Fungsi Dinas Pendidikan mestinya hadir sebelum masalah muncul, bukan menunggu dipermalukan.
Tapi kenyataannya, dinas terlihat lebih sibuk mengurus citra daripada memastikan guru mengajar.
Sistem pengawasan yang seharusnya mengawasi, nyatanya diam. Pembinaan yang seharusnya mencegah, nyatanya datang terlambat.
Sidak Bupati ini memperlihatkan satu fakta telanjang: kalau sekolah bisa kosong tanpa ada yang tahu, yang kosong bukan cuma kelas tapi fungsi pengawasan Dinas Pendidikan itu sendiri.
Publik pun kini punya satu pertanyaan sederhana tapi pedas: Selama ini, Dinas Pendidikan sebenarnya ngapain?
Karena pendidikan tak butuh reaksi kilat sesaat. Pendidikan butuh konsistensi, pengawasan nyata, dan keberanian membenahi sistem, bukan sekadar tampil sigap setelah malu dipergoki.
Komentar0