SIDIKJARI- Ramai pemberitaan dan postingan di media sosial yang mengangkat narasi bahwa Wakil Bupati Purwakarta, yang akrab disapa Abang Ijo, tidak dilibatkan dalam roda pemerintahan.
Narasi itu bergulir liar, dibagikan berulang-ulang, dan perlahan berubah menjadi opini publik yang seolah-olah sudah final.
Padahal satu pertanyaan sederhana belum terjawab: kalau memang benar tak dilibatkan, lalu kenapa tetap bertahan?
Ketua Pospera Purwakarta, Sutisna Sonjaya, tak menahan diri melontarkan sindiran pedas. Menurutnya, jabatan wakil bupati bukan kursi penonton yang cukup dibayar dengan tepuk tangan dan status media sosial.
“Kalau memang sudah tidak dilibatkan dalam pemerintahan, kenapa tidak ambil sikap gentle? Kenapa tidak mundur saja gitu aja repot?” tegasnya.
Bagi Sutisna, pemimpin sejati tidak bermain di wilayah abu-abu. Jika merasa dizalimi secara struktural, ambil langkah sikap tegas.
"Bukan justru menggiring opini publik dengan narasi seolah-olah menjadi korban yang tersisih,"ungkapnya.
Menurutnya, publik tidak butuh drama elite. Publik butuh kerja nyata. Jika benar tak diberi ruang, mengapa tidak bersikap konsisten? Mundur adalah pilihan terhormat jika memang merasa tidak dihargai secara institusional.
Perjalanan Bupati dan wakil Bupati masih sangat panjang, sebaiknya focus kerja, kerja kerakyatan agar masyarakat Purwakarta merasakan manfaat dari adanya kepala daerah.
"Jika memang ada yang kurang pas coba bahas di internal,bangun komunikasi yang baik dengan bupati, bukan malah curhat di medsos kaya anak remaja yang sedang galau,"katanya.
“Yang sulit itu berdiri di tengah,mengeluh, tapi tetap nyaman di kursi kekuasaan,” sindirnya tajam.
Komentar0