SIDIKJARI- Di teori tata surya, matahari itu satu. Tapi di “drama” pemerintahan, rupanya ada yang lagi uji coba sistem baru: dua matahari dalam satu orbit. Keren sih… kalau ini film fiksi. Masalahnya, ini Purwakarta bukan bioskop.
Lucunya, yang satu jelas punya mandat penuh, yang satu lagi… ya, harusnya paham diri sebagai pendamping. Tapi entah kenapa, belakangan ini vibe-nya beda.
Yang harusnya jadi co-pilot, malah sibuk pegang kemudi sendiri. Yang harusnya bantu arahkan, malah pengen jadi kompas utama.
Mungkin ada yang salah kaprah. Dikira jabatan wakil itu “setengah bupati”. Padahal bukan begitu cara kerjanya. Ini bukan paket, beli satu gratis satu, di mana dua-duanya bisa tampil jadi tokoh utama.
Ada peran, ada etika, ada batas. Tapi ya itu, kadang batas cuma dianggap garis samar—yang bisa dilewati kapan saja demi sorotan kamera.
Yang jadi pertanyaan sederhana: ini lagi kerja buat rakyat, atau lagi audisi buat panggung berikutnya?
Soalnya, kalau setiap momen harus jadi ajang tampil, setiap program harus diklaim, dan setiap langkah harus lebih depan dari yang seharusnya, ya wajar kalau publik mulai mikir: kok kayak rebutan cahaya, ya?
Padahal rakyat itu nggak butuh tontonan “siapa paling bersinar”. Mereka butuh hasil.
Jalan bagus, sampah keangkut, pelayanan beres. Bukan drama dua matahari yang saling adu terang tapi bikin silau tanpa arah.
Dan yang paling bikin senyum miris, fenomena ini sering dibungkus rapi dengan kata “inisiatif” atau “semangat kerja”.
Padahal kalau terlalu sering nyalip, itu bukan inisiatif—itu namanya ambisi yang kurang rem.
Akhirnya ya begini: langit jadi panas bukan karena cahaya, tapi karena ego. Dan kalau dibiarkan, bukan cuma panas—bisa-bisa malah terbakar kepercayaan publiknya.
Saran kecil saja: kalau belum waktunya jadi matahari, jangan maksa bersinar sendiri. Nanti bukannya terang, malah kelihatan maksa.
Dan publik, percayalah, sekarang sudah cukup pintar buat bedain mana cahaya asli, mana yang cuma pantulan penuh kepentingan.
Penulis: Sutisna Sonjaya
Ketua Pospera Purwakarta
Komentar0