SIDIKJARI – Lagi-lagi urusan pengadaan bandwidth internet di lingkungan Diskominfo Purwakarta bikin dahi publik berkerut.
Bukan karena teknologinya terlalu canggih, tapi karena prosesnya terlihat terlalu “rapi”.
Pengadaan sewa bandwidth melalui e-katalog kali ini berjalan sangat mulus. Saking mulusnya, publik sampai bertanya-tanya: ini proses pemilihan vendor atau sekadar formalitas administrasi sebelum penetapan pemenang?
Di atas kertas, sistem e-katalog memang dibuat agar terbuka, transparan, dan kompetitif. Semua vendor punya kesempatan yang sama. Semua bisa ikut. Semua bisa bersaing.
Tapi entah kenapa, hasil akhirnya sering terasa seperti episode sinetron yang ending-nya sudah bocor sejak awal.
Persyaratan teknis yang dicantumkan disebut-sebut sangat spesifik. Mulai dari kapasitas bandwidth, SLA, spesifikasi perangkat, hingga penggunaan kata-kata “minimal” yang kalau dibaca teliti, arahnya seperti menunjuk ke satu profil perusahaan tertentu.
Lucunya lagi, dari ratusan vendor ISP yang tersedia di e-katalog, nama pemenangnya lagi-lagi itu juga. Kalau ini bukan pola, mungkin memang jodoh.
Publik pun mulai bertanya:
* Kalau memang pengadaannya terbuka, kenapa undangan klarifikasi teknis kabarnya hanya dikirim ke satu vendor?
* Kalau spesifikasinya benar-benar umum dan tidak mengarah, kenapa hasil akhirnya selalu identik dengan profil perusahaan yang sama?
* Dan kalau memang vendor lain kalah kualitas, kenapa proses pembuktiannya terasa seperti rahasia negara?
Kami tegaskan sekali lagi: tidak ada yang menuduh.
Kami hanya membaca pola. Dan pola itu muncul terus menerus dengan tingkat konsistensi yang bahkan kalah stabil dibanding jaringan internet saat hujan deras.
Ironisnya, istilah “kompetisi sehat” dalam pengadaan kadang terdengar seperti jargon seminar. Dipajang di slide presentasi, tapi susah ditemukan di lapangan.
Padahal sederhana saja. Kalau memang semuanya bersih dan profesional, buka saja dokumennya secara terang-benderang:
1. Tampilkan HPS, KAK, dan berita acara klarifikasi teknis.
2. Jelaskan poin apa yang membuat vendor lain gugur.
3. Paparkan alasan teknis kenapa pemenangnya dianggap paling layak.
Publik juga ingin belajar. Siapa tahu ada rumus rahasia “cara menang e-katalog tanpa saingan”.
Karena kalau prosesnya sehat, transparansi seharusnya bukan ancaman.
Tapi kalau setiap pertanyaan dianggap gangguan, wajar bila publik mulai curiga bahwa yang berjalan bukan kompetisi, melainkan pengondisian yang dibungkus digitalisasi.
Dan seperti biasa, ketika pertanyaan mulai terlalu banyak, jawaban paling sering muncul justru keheningan.
Mungkin karena ada hal-hal yang memang lebih nyaman dibahas di ruang tertutup daripada di depan publik.
Komentar0