SIDIKJARI – Di tengah harga kebutuhan pokok yang makin lihai bikin dompet megap-megap, masyarakat kecil akhirnya mendapat kabar yang cukup menghibur: harta kekayaan Wakil Bupati disebut mengalami peningkatan signifikan berdasarkan data LHKPN tahun lalu.
Sontak, kabar itu menghadirkan rasa haru sekaligus motivasi bagi rakyat jelata yang tiap pagi masih bertarung dengan ongkos angkot dan harga cabai yang naiknya lebih cepat dari gaji buruh.
“Ini bukti nyata bahwa kerja keras memang tidak pernah mengkhianati hasil,” celetuk seorang warga sambil menghitung recehan Rp2.000 buat ongkos pulang.
Di saat sopir angkot masih menunggu subsidi yang entah nyangkut di mana, angka kekayaan pejabat justru melaju mulus tanpa hambatan. Stabil, konsisten, dan tampaknya tahan terhadap inflasi.
Sementara bodi angkot sudah lebih mirip saksi sejarah daripada kendaraan umum, pertumbuhan harta pejabat malah terlihat sehat dan progresif.
Sebuah pencapaian ekonomi yang luar biasa, meski sayangnya belum bisa dinikmati secara kolektif.
Warga pun mulai penasaran. Bisnis apa sebenarnya yang lebih menjanjikan daripada jualan cilok, gorengan, atau ngojek dari pagi sampai malam? Kalau memang ada rahasia suksesnya, rakyat kecil berharap bisa ikut belajar.
“Kalau ada pelatihan UMKM tentang cara menambah kekayaan miliaran dalam waktu singkat, kami siap daftar pertama,” ujar seorang sopir angkot sambil tertawa getir.
Meski begitu, masyarakat mengaku tetap berprasangka baik. Sebab semua tentu sudah sesuai aturan dan tercatat dalam LHKPN.
Hanya saja, publik berharap ada lembaga yang ikut memastikan semuanya benar-benar terang benderang.
“PPATK turun dong. Biar rakyat nggak cuma disuruh percaya, tapi juga bisa ikut tenang,” kata seorang warga.
Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak iri. Justru bangga. Karena kalau pejabat daerah bisa makin kaya, berarti secara teori ekonomi daerah sedang baik-baik saja.
Setidaknya… di atas kertas.
Dan sekali lagi, selamat atas pencapaian luar biasa tersebut. Semoga tahun depan yang naik bukan cuma angka di tabel kekayaan, tapi juga kesejahteraan warga yang tiap hari masih setia bergelantungan di pintu angkot tua.
Penulis: Panuntun. catur Supangkat
Komentar0