SIDIKJARI- Dunia jurnalistik Purwakarta kembali dikejutkan dengan lahirnya karya investigasi kelas multiverse. Sebuah media online sukses memberitakan data LHKPN Wakil Bupati Purwakarta dengan angka yang begitu kreatif sampai bikin pembaca bertanya:
“Ini ambil data dari situs resmi atau dari mimpi semalam?”
Ketua Pospera Purwakarta, Sutisna Sonjaya, mengaku heran setelah mencoba mencocokkan isi berita dengan data resmi LHKPN.
“Kreatifnya sampai-sampai kalau dicek langsung ke link LHKPN angkanya beda, jauh. Kayak beda universitas,” ujar Sutisna kepada awak media, Rabu (20/5/2026).
Dalam dunia jurnalistik modern, rupanya angka tidak lagi harus sesuai fakta. Angka bisa naik turun sesuai selera dan kebutuhan narasi.
Di situs resmi tertulis A, di berita berubah jadi A+50 persen. Mungkin medianya punya kalkulator khusus. Bukan kalkulator saintifik, tapi kalkulator perasaan.
Yang lebih menarik,menurutnya, berita tersebut tampil begitu percaya diri walau tanpa screenshot LHKPN, tanpa tautan resmi, bahkan tanpa kutipan data yang jelas. Tapi keyakinannya luar biasa. Mirip cenayang yang habis semedi tujuh malam.
Pembaca yang masih punya kebiasaan kuno seperti cek sumber tentu mulai bingung.
Pertanyaan Bodoh dari Kami
* Kalau memang baca LHKPN, kenapa nggak sekalian lampirkan link atau screenshot? Takut ketahuan salah hitung?
* Kalau memang ada perbedaan data, jangan-jangan yang isi LHKPN itu bukan wabup, tapi “tim kreatif” lain?
* Atau jangan-jangan ada dua versi LHKPN: versi resmi dan versi cocoklogi?
Sutisna bahkan melontarkan sindiran yang cukup menohok.
“Kami curiga jangan-jangan LHKPN wabup emang ‘dibikinin orang’. Bukan dibikinin wabup, tapi dibikinin orang lain. Jadinya LHKPN versi fiksi ilmiah.”ungkap Sutisna.
Kalimat itu memang terdengar pedas. Tapi di tengah maraknya berita yang lebih mengandalkan sensasi daripada verifikasi, publik akhirnya dipaksa jadi detektif mandiri.
"Lucunya lagi, ketika ada yang mencoba meluruskan data, langsung dianggap membela pejabat. Padahal bisa jadi cuma sedang membela matematika agar tidak ikut difitnah,"katanya.
Karena bagaimanapun juga, angka punya sifat keras kepala. Mau dipelintir pakai opini sepanjang apa pun, kalau sumber resminya beda ya tetap beda.
Mungkin ke depan perlu ada pelatihan khusus: “Cara Membaca LHKPN Tanpa Halusinasi.”
Atau minimal:
“Bedakan Data Resmi dengan Karangan Bebas.”
Sebab kalau model begini terus dibiarkan, besok-besok laporan keuangan bisa berubah jadi genre fantasi. Harta Rp2 miliar bisa ditulis Rp20 miliar, lalu ketika diprotes tinggal jawab:
“Namanya juga interpretasi jurnalistik.”
Komentar0