SIDIKJARI – Pagi di Purwakarta mungkin terlihat biasa. Angkot berjalan pelan menyusuri jalan, berhenti di sudut-sudut kota, menunggu penumpang yang kadang datang, kadang tidak.
Namun bagi sebagian sopir angkot, setiap hari adalah pertaruhan. Pulang membawa uang cukup untuk makan keluarga, atau pulang dengan wajah lelah dan penghasilan yang tak seberapa.
Di tengah keadaan itu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta menghadirkan program “Rebo Ngumum” (Rabu Menggunakan Angkutan Umum).
Sebuah kebijakan yang mewajibkan ASN dan tenaga honorer berangkat kerja menggunakan angkutan umum setiap hari Rabu.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Purwakarta Nomor: 000.1.4/884/Org/2026, dengan tujuan mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan.
Tetapi di balik itu semua, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam: tentang rasa peduli kepada mereka yang selama ini bertahan dalam sunyi.
Karena sesungguhnya, bagi rakyat kecil, perhatian sekecil apa pun bisa terasa sangat besar.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, memahami bahwa roda ekonomi masyarakat kecil tidak selalu membutuhkan bantuan besar. Kadang mereka hanya butuh untuk tidak dilupakan.
“Mungkin bagi kita ongkos angkot hanya beberapa ribu rupiah. Tapi bagi seorang sopir, itu bisa jadi uang makan anaknya hari ini,” ujar Om Zein.
Kalimat itu sederhana. Tetapi di jalanan Purwakarta, kalimat itu hidup.
Ada sopir angkot yang sejak subuh keluar rumah berharap trayeknya ramai. Ada yang tetap tersenyum meski seharian menunggu penumpang.
Ada pula yang diam-diam cemas ketika setoran tak cukup sementara kebutuhan rumah terus berjalan.
Lalu pada hari Rabu, bangku-bangku kosong itu mulai terisi kembali.
Di dalam angkot, tidak ada sekat jabatan. Semua duduk berdampingan. ASN, pedagang, buruh, pelajar hingga ibu rumah tangga berada dalam ruang yang sama. Semua sama-sama penumpang yang sedang menjalani perjalanan hidupnya.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari *Rebo Ngumum*.
Bahwa pemerintah bukan hanya tentang aturan dan pidato. Pemerintah adalah tentang hadir.
Tentang mau merasakan jalan yang dilalui rakyatnya. Tentang mau mendengar suara kecil yang selama ini tenggelam di antara bisingnya kota.
Angkot tua yang sederhana itu akhirnya bukan sekadar kendaraan. Ia menjadi ruang kecil tempat empati tumbuh. Tempat manusia belajar memahami manusia lainnya.
Sebab kadang, perubahan besar tidak selalu dimulai dari gedung megah atau kebijakan rumit. Kadang perubahan dimulai dari satu keputusan sederhana: mau duduk bersama rakyat, di bangku angkot yang sama.
Komentar0