SIDIKJARI- Dinas Peternakan Gelontorkan Setengah Miliar untuk Kelompok Tani Purwakarta, Jangan Sampai “Kelompok Titipan” Ikut Ternak Anggaran
Setengah miliar rupiah digelontorkan untuk kelompok tani di Purwakarta. Angka yang tidak kecil, bahkan cukup untuk mengubah wajah peternakan rakyat jika benar-benar dikelola dengan niat dan mekanisme yang benar.
Di atas kertas, semuanya tampak rapi: ada kualifikasi penerima, ada verifikasi, ada tujuan mulia meningkatkan produksi dan kesejahteraan peternak.
Tapi publik sudah terlalu sering belajar satu hal: yang rapi di atas kertas belum tentu lurus di lapangan.
Karena di balik program seperti ini, selalu ada satu “penyakit lama” yang diam-diam bisa kambuh kapan saja kelompok titipan.
Kelompok yang tiba-tiba muncul saat bantuan turun, aktif hanya saat proposal diajukan, lalu menghilang ketika program harus dipertanggungjawabkan. Nama ada, aktivitas samar, tapi dana mengalir lancar.
Padahal jelas, penerima manfaat seharusnya sesuai kualifikasi yang sudah ditentukan. Bukan karena dekat, bukan karena kenal, bukan karena “direkomendasikan”.
Jika aturan sudah dibuat, maka yang harus ditegakkan bukan sekadar formalitas administrasi, tapi integritas pelaksanaannya.
Kalau tidak, maka yang terjadi bukan pemberdayaan melainkan pembagian jatah.
Sindiran publik pun makin tajam:
“Anggarannya besar, tapi hasilnya seperti angin lewat terasa sebentar, lalu hilang.”
Lebih pedih lagi:
“Jangan-jangan yang gemuk bukan ternaknya, tapi laporan kegiatannya.”
Atau lebih pedas lagi:
*“Programnya untuk kelompok tani, tapi yang panen justru ‘kelompok dalam jaringan’.”
Ini bukan sekadar kritik kosong. Ini peringatan. Karena setiap rupiah yang keluar dari anggaran publik membawa tanggung jawab.
Salah sasaran sedikit saja, dampaknya bisa panjang—bukan hanya soal uang yang terbuang, tapi juga soal kepercayaan yang terkikis.
Kalau memang serius ingin memajukan peternakan di Purwakarta, maka satu hal harus dijaga mati-matian: ketepatan sasaran.
Pastikan yang menerima adalah mereka yang benar-benar bekerja di lapangan, yang benar-benar butuh, dan yang benar-benar mampu mengelola bantuan menjadi hasil nyata.
Karena jika tidak, setengah miliar itu hanya akan jadi cerita lama yang berulang:
anggaran besar, program megah, laporan selesai… tapi di kandang, yang terdengar tetap sunyi.
Penulis: Panuntun Catur Supangkat
Sekretaris Pospera Purwakarta
Komentar0