Namun seorang ibu bernama Bu Sinta memilih tetap berdiri, meski kakinya hampir tak kuat menopang beban kehidupan.
Sudah lebih dari dua tahun ia ditinggalkan suaminya pergi tanpa kabar. Sejak saat itu, Bu Sinta harus menjalani hidup seorang diri, memikul tanggung jawab sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga demi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan biaya kehidupan.
Untuk menyambung hidup, Bu Sinta berjualan kecil-kecilan. Namun modal usahanya bukan berasal dari tabungan atau bantuan, melainkan dari hutang dan pinjaman yang sampai sekarang belum juga mampu ia lunasi.
Setiap hari ia berdagang dengan hati yang campur aduk. Kadang dagangan laku, kadang tidak.
Tapi kebutuhan anak-anak tak pernah bisa menunggu. Makan harus ada, sekolah harus tetap berjalan, sementara hutang terus menghantui pikirannya.
Di balik senyumnya yang sederhana, ternyata ada luka yang selama ini dipendam sendirian.
Hingga akhirnya, kisah hidup Bu Sinta sampai ke telinga Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein.
Saat bertemu langsung, Bu Sinta tak mampu menahan air mata ketika menceritakan kehidupannya.
Dengan suara bergetar, ia mengaku hanya ingin anak-anaknya tetap bisa hidup layak dan tidak merasakan pahitnya keadaan seperti yang ia alami.
Tanpa banyak kata, Om Zein memberikan bantuan modal usaha agar Bu Sinta bisa kembali bangkit dan melanjutkan usahanya tanpa terus bergantung pada hutang yang mencekik kehidupan.
Dalam kesempatan itu, Om Zein juga menyampaikan pesan menyentuh kepada Bu Sinta.
“Ibu harus kuat. Jangan menyerah demi anak-anak. Saya percaya ibu bisa bangkit dan usaha ini bisa berkembang. Pemerintah harus hadir untuk masyarakat yang sedang kesulitan. InsyaAllah selama masih ada jalan, kita bantu bersama-sama,” ujar Om Zein.
Ia juga mengatakan bahwa perjuangan seorang ibu tidak boleh dipandang sebelah mata.
“Kadang perempuan yang ditinggal justru paling kuat bertahan. Mereka menahan sakit sendiri demi anak-anaknya tetap makan dan sekolah. Ini yang harus kita bantu dan perhatikan,” tambahnya.
Bantuan itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi Bu Sinta, itu adalah harapan baru.
Harapan bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Harapan bahwa masih ada tangan yang peduli pada rakyat kecil yang sedang berjuang bertahan hidup.
Tangis Bu Sinta pecah bukan karena ia lemah, tetapi karena setelah sekian lama berjuang sendiri, akhirnya ada yang benar-benar mendengar dan peduli pada penderitaannya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik jabatan dan kekuasaan, seorang pemimpin sejatinya hadir untuk merangkul mereka yang hampir kehilangan harapan.
Dan bagi seorang ibu seperti Bu Sinta, bantuan itu bukan sekadar modal usaha. Itu adalah semangat baru untuk terus hidup demi anak-anak yang menjadi alasan terbesarnya bertahan hingga hari ini.
Komentar0