GUYoGpApTSrlBSY5TpC8BSd8Ti==

Air Mengalir, Ingatan Kembali: Muru Indung Cai dan Pesan Kehidupan dari Purwakarta

SIDIKJARI – Di tengah arus modernisasi yang kerap menjauhkan manusia dari akar kehidupannya, Pemerintah Kabupaten Purwakarta kembali menghidupkan sebuah tradisi sarat makna melalui Kegiatan Muru Indung Cai Purwakarta Istimewa, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Purwakarta ke-58 dan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195,Minggu,(14/6/2026).

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Ir. Sri Jaya Midan, MP, bersama unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, camat, lurah, kepala desa, serta masyarakat, melaksanakan prosesi pengambilan air secara simbolis di Taman Air Mancur Sri Baduga Purwakarta. 

Air tersebut kemudian dibawa menuju Mata Air Cibulakan di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa.

Secara harfiah, Muru Indung Cai berarti "mencari atau mendatangi induk air". Namun lebih dari sekadar perjalanan membawa kendi berisi air, tradisi ini merupakan perjalanan batin untuk mengingat kembali asal-usul kehidupan. 

Air yang selama ini mengalir dan dimanfaatkan masyarakat sejatinya berasal dari sumber-sumber alam yang harus dijaga dan dihormati.

Prosesi mengembalikan air dari Taman Sri Baduga menuju Mata Air Cibulakan merupakan simbol napak tilas, sebuah upaya menghubungkan kembali hilir dengan hulu, hasil dengan sumbernya. 

Dalam filosofi Sunda, manusia diajarkan untuk tidak melupakan asal-usulnya. Sebagaimana air yang mengalir jauh hingga ke berbagai penjuru, pada akhirnya ia tetap memiliki hubungan dengan mata air tempat ia dilahirkan.

Bupati Purwakarta, Om Zein, mengatakan bahwa Muru Indung Cai bukan sekadar seremoni budaya, melainkan pengingat bagi seluruh masyarakat agar senantiasa menghargai alam sebagai sumber kehidupan.

"Air adalah sumber kehidupan. Melalui Muru Indung Cai, kita diajak untuk kembali mengingat dari mana kehidupan ini bermula. Jangan sampai kita menikmati air setiap hari, tetapi lupa menjaga mata airnya. Tradisi ini mengajarkan rasa syukur, penghormatan kepada alam, dan tanggung jawab untuk mewariskan sumber kehidupan kepada generasi berikutnya," ujar Om Zein.

Menurutnya, Purwakarta memiliki kekayaan alam dan budaya yang harus dijaga secara bersamaan. Pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

"Leluhur Sunda mengajarkan bahwa alam bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dirawat. Muru Indung Cai adalah bentuk penghormatan kepada karunia Allah SWT sekaligus pengingat bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam. Ketika mata air terjaga, kehidupan masyarakat pun akan tetap terjaga," tambahnya.

Tema “Ajeg Budaya Purwakarta Istimewa” yang diusung dalam kegiatan ini mengandung pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan nilai-nilai yang harus terus dijaga agar tetap hidup dalam perilaku masyarakat. 

Melalui Muru Indung Cai, masyarakat diajak untuk memahami bahwa menjaga lingkungan, melestarikan sumber mata air, dan menghormati alam merupakan bagian dari jati diri budaya Sunda yang luhur.

Air menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kemuliaan. Ia memberi kehidupan tanpa memilih siapa yang akan menikmatinya. 

Ia mengalir dengan rendah hati, namun memiliki kekuatan besar untuk menopang peradaban. Karena itu, menghargai air berarti menghargai kehidupan itu sendiri.

Tradisi ini juga mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan spiritualitas. 

Ketika hubungan manusia dengan alam tetap terpelihara, maka keberlangsungan kehidupan generasi mendatang akan lebih terjamin.

Melalui Muru Indung Cai, Purwakarta tidak hanya merayakan hari jadinya, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga sumber-sumber kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa. 

Sebuah pesan sederhana namun mendalam: bahwa setiap tetes air memiliki sejarah, setiap mata air memiliki makna, dan setiap manusia memiliki kewajiban untuk merawatnya.

Di situlah esensi Muru Indung Cai berada, bukan sekadar membawa air kembali ke hulunya, melainkan mengembalikan kesadaran manusia kepada asal mula kehidupan.

Komentar0

Type above and press Enter to search.