SIDIKJARI – Di tengah rangkaian perayaan Hari Jadi ke-195 Kota Purwakarta dan ke-58 Kabupaten Purwakarta Tahun 2026, masyarakat diajak sejenak menundukkan kepala, mengheningkan hati, dan mengingat kembali jejak para pendahulu yang telah mewariskan nilai, perjuangan, serta identitas bagi tanah Purwakarta.
Momentum itu tergambar dalam kegiatan Mitembeyan Hari Jadi/Purwakarta Bersholawat yang dihadiri Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, di Komplek Masjid Agung Baing Yusuf.
Berbeda dengan kemeriahan berbagai agenda hiburan dan budaya yang mewarnai peringatan hari jadi daerah, Mitembeyan menghadirkan suasana yang penuh kekhusyukan.
Lantunan dzikir dan sholawat menggema di pelataran masjid, menyatu dengan doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan, kemajuan, dan kesejahteraan masyarakat Purwakarta.
Mitembeyan bukan sekadar tradisi seremonial tahunan. Dalam filosofi budaya Sunda, mitembeyan bermakna mengawali sesuatu dengan niat baik, doa, dan penghormatan kepada nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan.
"Mitembeyan mengajarkan kepada kita bahwa sebelum melangkah lebih jauh, kita harus terlebih dahulu mengingat siapa yang telah membuka jalan. Hari ini kita berdoa, berdzikir, dan berziarah bukan hanya untuk mengenang para leluhur, tetapi juga untuk mengambil nilai perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian yang mereka wariskan kepada Purwakarta."ungkap Om Zein.
Karena itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan pembangunan harus dimulai dengan kesadaran akan sejarah, rasa syukur, dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
"Pembangunan tidak cukup hanya dengan kekuatan anggaran dan program. Pembangunan juga membutuhkan doa, keberkahan, serta nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Karena itu, Mitembeyan menjadi ikhtiar bersama agar Purwakarta senantiasa mendapat ridho dan perlindungan Allah SWT."ucapnya.
Kegiatan yang diisi dengan dzikir bersama, doa bersama, serta ziarah ke makam Syekh Baing Yusuf itu menjadi simbol penghormatan kepada para ulama dan tokoh terdahulu yang telah memberikan cahaya ilmu, keteladanan, serta kontribusi besar bagi perkembangan Purwakarta.
Di hadapan makam Syekh Baing Yusuf, masyarakat tidak hanya datang untuk berziarah.
"Kita mungkin tidak lagi hidup satu zaman dengan para leluhur, tetapi kita masih menikmati hasil perjuangan mereka. Maka tugas kita hari ini adalah menjaga Purwakarta dengan hati, merawat budayanya, memperkuat persaudaraannya, dan mewariskan kebaikan kepada generasi yang akan datang."ucapnya.
Semua yang hadir membawa rasa hormat kepada sejarah, mengenang perjuangan para pendahulu, sekaligus memanjatkan harapan agar nilai-nilai kebaikan yang diwariskan tetap hidup dalam kehidupan generasi masa kini.
Suasana khidmat begitu terasa ketika ribuan jamaah larut dalam lantunan sholawat. Dalam momen tersebut, perbedaan latar belakang, profesi, dan status sosial seakan melebur menjadi satu.
Hari jadi adalah ruang refleksi untuk menengok ke belakang, menghargai perjuangan para pendahulu, dan menata langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Sebab sebuah daerah tidak akan menjadi besar hanya karena pembangunan fisiknya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan.
Melalui Mitembeyan, masyarakat diajak memahami bahwa kemajuan yang sesungguhnya harus berjalan beriringan dengan kekuatan moral dan spiritual.
Gedung dapat dibangun, jalan dapat diperlebar, dan teknologi dapat berkembang, tetapi tanpa akar sejarah dan nilai-nilai luhur, sebuah daerah akan kehilangan jati dirinya.
Karena itulah, dzikir, doa bersama, dan ziarah dalam Mitembeyan menjadi lebih dari sekadar ritual. Ia adalah ikhtiar batin untuk menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, menghormati jasa para leluhur, serta memperkuat persaudaraan antarsesama.
Di usia ke-195 Kota Purwakarta dan ke-58 Kabupaten Purwakarta, Mitembeyan menjadi pesan yang menggetarkan hati: bahwa setiap kemajuan harus diawali dengan rasa syukur, setiap pembangunan harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan, dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan yang telah dititipkan oleh para pendahulu.
Sebab Purwakarta bukan hanya tentang tempat yang dihuni hari ini, melainkan tentang sejarah yang harus dihormati, budaya yang harus dijaga, dan masa depan yang harus diwariskan dengan penuh keberkahan.
"Hari Jadi Purwakarta bukan hanya tentang bertambahnya usia daerah, melainkan momentum untuk bercermin. Kita harus bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana kita menjaga amanah para pendahulu dan meneruskan cita-cita mereka untuk kemajuan Purwakarta."pungkasnya.
Komentar0