SIDIKJARI- Di sebuah desa di Kabupaten Purwakarta, angka-angka anggaran Dana Desa tampak begitu “sehat”. Bahkan bisa dibilang, lebih bergizi dari hasil yang dirasakan warga.
Bagaimana tidak, program Peningkatan Produksi Peternakan digelontorkan dari anggaran dana Desa tahun 2024 mencapai Rp 88 juta.
Lalu Peningkatan Produksi Tanaman Pangan menyusul dengan Rp 98.998.000.
Belum cukup, sektor perikanan pun ikut “kecipratan” Rp 36 juta.
Totalnya? Lumayan untuk membuat proposal terlihat meyakinkan. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah hasilnya juga semeyakinkan angka di atas kertas?
Di lapangan, warga masih bertanya-tanya. Kandang ternak katanya ditingkatkan, tapi sapi tetap kurus seperti ikut program diet.
Alat produksi pertanian disebut-sebut lengkap, tapi petani masih setia dengan cara lama cangkul dan doa.
Sementara bantuan perikanan? Ikan-ikan mungkin sudah kenyang pakan, tapi kolamnya entah di mana.
Ironisnya, setiap program selalu terdengar hebat saat direncanakan. Kata-kata seperti “peningkatan”, “pengolahan”, dan “produksi” bertebaran.
Seolah desa ini akan menjadi lumbung pangan sekaligus sentra peternakan modern dalam sekejap.
Namun realita di lapangan seringkali lebih sederhana: papan proyek ada, dokumentasi ada, tapi dampaknya… samar-samar.
publik bukan tidak paham anggaran. Mereka tahu uang puluhan juta bukan angka kecil.
Justru karena itu, mereka berharap hasilnya juga terasa besar. Bukan sekadar laporan yang rapi, foto kegiatan yang estetik, atau seremonial yang penuh senyum.
Sindiran paling halus dari warga mungkin begini: “Kalau anggarannya sudah sebesar itu, masa hasilnya masih kecil-kecilan?”
Atau mungkin, programnya memang berhasil hanya saja yang meningkat bukan produksinya, melainkan kebingungan warga melihat hasilnya.
Komentar0